Selasa, 21 Juni 2011

Resep Sayur: Sayur Santan Pancom


Jakarta - Sayur sederhana ini dibuat dari pakis dan oncom. Rasanya gurih-gurih pedas karena memakai cabai, santan dan oncom yang gurih. Cukup dengan nasi putih, lauk ini selalu licin tandas diserbu keluarga!

Bahan:
2 sdm minyak goreng
2 ikat pakis, ambil daun dan batang mudanya
1 keping (150 g) oncom segar, haluskan kasar
250 ml air
500 ml santan
½ gula pasir
1 sdt garam
Bumbu:
4 butir bawang merah, iris tipis
3 siung bawang putih, iris tipis
5 buah cabai merah kriting, iris serong
5 buah cabai hiijau kriting, iris serong
1 sdt ketumbar bubuk
1/2 sdt terasi goreng
3 cm lengkuas, memarkan
1 lembar daun salam

Cara Membuat :

  • Panaskan minyak goreng, tumis bumbu hingga berbau harum.
  • Masukkan oncom, tambahkan air dan masak hingga empuk dan agak hancur
  • Setelah oncom empuk, masukkan pakis dan aduk hingga layu. Didihkan.
  • Masukkan santan, aduk. Bubuhi gula dan garam secukupnya.
  • Biarkan hingga mendidih dan meresap. Angkat.
  • Sajikan hangat.
Untuk 6 orang

Bila Mata Sudah Terasa Lelah, Lakukan Cara Ini


Jakarta, Terlalu lama bekerja di depan komputer atau fokus pada satu hal kadang bisa membuat mata menjadi lelah. Tapi ada beberapa cara alami yang bisa dilakukan untuk mengatasi mata lelah.

Mata adalah salah satu indera yang memiliki fungsi penting dan berharga. Jika seseorang sudah mengalami mata lelah maka kondisi ini akan mempengaruhi kemampuan penglihatanya serta menurunkan kinerja.

Mata lelah umumnya bisa disebabkan oleh banyak hal. Namunpenyebab umumnya secara luas diklasifikasikan menjadi tiga kategori yaitu:

  1. Lingkungan, seperti stres di tempat kerja, rumah dan lingkungan yang bising sehingga waktu tidur berkurang. Selain itu tekanan ke mata juga bisa diakibatkan terlalu lama menatap komputer, terlalu lama membaca di tempat redup tanpa menggunakan kacamata atau lensa kontak, pasokan oksigen yang tidak memadai, polusi dan asap rokok.
  2. Pola makan, kurangnya asupan air dan beberapa vitamin seperti vitamin B12, D dan K bisa berkontribusi menyebabkan mata lelah.
  3. Keturunan dan fisiologi, faktor genetik kadang memberikan pengaruh meski tidak terlalu besar dan usia yang bertambah menyebabkan penipisan dan otot-otot mata yang kendur.

Gejala yang muncul jika mata mengalami kelelahan adalah mata berair, terasa berat, kemerahan, mata kering, penglihatan kabur atau ganda, iritasi dan lebih peka terhadap cahaya.

Meski begitu ada beberapa cara alami yang bisa dilakukan untuk mengatasi mata lelah, seperti dikutip dari Lifemojo, Selasa (21/6/2011) yaitu:

1. Mengompres mata dengan handuk atau tisu dingin
Rendamlah kain, handuk atau tisu ke dalam air dingin lalu tempatkan di mata, setelah beberapa saat angkat handuk dan ulangi lagi hingga mata terasa segar. Cara ini juga bisa membantu menghilangkan mata gatal.

2. Mencuci mata dengan air dingin
Mencuci mata dengan air dingin beberapa kali sehari bisa membantu merilekskan mata dan mengurangi ketegangan yang memicu kelelahan.

3. Menempatkan sendok dingin di mata
Salah satu pengobatan rumah yang sederhana untuk mata lelah adalah meletakkan dua sendok ke mata yang sebelumnya sudah ditaruh di dalam lemari es.

4. Menempatkan irisan mentimun, kentang atau strawberry di mata
Potong mentimun atau kentang menjadi irisan lalu tempatkan di mata selama 15-20 menit. Bisa juga dengan meletakkan strawberry yang sebelumnya sudah disimpan di lemari es beberapa saat di kelopak mata sambil terpejam.

5. Menggunakan kantong teh dingin
Seduh 2 kantong teh ke dalam rebusan air di panci kecil, setelah mendidih matikan lalu dinginkan untuk mengeluarkan panasnya. Setelah kantong teh benar-benar dingin, tempatkan di mata dan buatlah kondisi rileks.

6. Merendam kapas bola dengan susu dingin atau air mawar
Ambil semangkuk susu dingin atau air mawar, lalu celupkan kapas bola ke dalamnya. Setelah itu letakkan di kelopak dengan posisi mata tertutup.

Kenaikan Pendapatan Picu Penyakit Kronis


Penyakit kronis dan tidak menular menjadi penyebab utama kematian di wilayah Asia Tenggara. Perkembangan ekonomi negara yang berdampak pada kenaikan pendapatan per kapita penduduknya menjadi pemicu tingginya prevalensi penyakit ini.

”Penyakit kronis dan tidak menular merupakan pembunuh terbesar di dunia. Sekitar 80 persen kematian akibat penyakit kronis dan tidak menular terjadi di negara-negara dengan penghasilan rendah dan sedang,” kata Kenneth Thorpe, PhD, Direktur Eksekutif Kemitraan untuk Memerangi Penyakit Kronis, Selasa (21/6/2011) di Jakarta.

Ia menjadi pembicara pada lokakarya ”Meeting the Chronic Disease Challenge” yang dihadiri sekitar 50 orang, terdiri dari perwakilan negara-negara anggota ASEAN dan pakar kesehatan internasional dan regional. Dalam laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) disebutkan, empat penyakit kronis dan tidak menular yang paling banyak menyebabkan kematian adalah kanker, penyakit pernapasan kronis, penyakit jantung, dan diabetes. Pada tahun 2008 tercatat 2,7 juta orang di negara-negara anggota ASEAN meninggal akibat empat penyakit ini.

Thorpe mengatakan, kenaikan pendapatan per kapita ikut mengubah pola diet masyarakat. ”Mereka yang memiliki penghasilan lebih tinggi cenderung membeli dan mengonsumsi daging, telur, susu, atau makanan siap saji dibandingkan dengan makanan berserat,” kata Thorpe.

Tingkat kesadaran masyarakat untuk hidup sehat masih sangat rendah. Mereka yang berisiko terkena penyakit kronis adalah orang-orang yang merokok, mengonsumsi alkohol, makan makanan rendah serat dan tinggi lemak, serta kurang aktif melakukan kegiatan fisik. Mereka cenderung mengalami obesitas, tekanan darah tinggi, kadar gula darah tinggi, dan kadar kolesterol tinggi.

Selain kematian yang diperkirakan meningkat hingga 21 persen dalam kurun waktu 10 tahun mendatang, penyakit kronis dan tidak menular juga menyebabkan kerugian ekonomi suatu negara.

Kerugian ekonomi

Hasil riset Cameron Institute Kanada memperkirakan, Indonesia mengalami kerugian 37,2 miliar dollar AS per tahun sebagai dampak penyakit kronis dan tidak menular. Hal itu akibat meningkatnya biaya pelayanan kesehatan dan hilangnya produktivitas warga.

Thorpe mendesak pemerintah negara-negara di ASEAN agar segera meningkatkan kebijakan untuk menangani penyakit kronis secara efektif.

Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia Anna Ulfah Raharjoe mengatakan, negara-negara di Asia Tenggara menghadapi beban ganda. Saat negara-negara anggota ASEAN masih berjuang memerangi penyakit infeksi yang prevalensinya masih tinggi, penyakit kronis dan tidak menular muncul sebagai masalah baru yang mengancam kesehatan masyarakat. ”Sementara itu, anggaran untuk kesehatan masih jauh dari memadai,” katanya.

Sumber:kompas.com